Jika tidak sedang menonton, anda pasti sedang ditonton. Sebab drama adalah anda, saya dan secuil ruang dunia yang sedang kita bagi ini....
03 Desember 2016

Hari Ini Saya Memilih Menjadi "Bodoh"



Pasca Aksi Super Damai 212, semua orang pada sibuk teriakkan berbagai analisa dengan angle sesuai "kemauan" masing-masing. Itu wajar, karena hidup ini memang pilihan bebas. 


Sementara mereka pemilik moment besar itu, yaitu para pelaku yg berjibaku turun ke monas dengan segala daya upaya, malah sudah gak mikirin apa-apa lagi selain ikhlas dan gembira karena 'perjuangan' mereka berakhir damai seperti yang sudah mereka rencanakan jauh hari. Mereka pulang diam-diam ke rumah dan daerah masing-masing dengan ongkos dan akomodasi sendiri-sendiri.


Politik? Haha... ini gak ada urusan dengan politik, apalagi SARA. Mayoritas mereka bahkan gak peduli dengan politik. Siapa? Anak-anak belasan tahun itu? Kakek-nenek 80 tahunan itu? Atau seorang difabel yang datang dengan kursi roda itu? Ah, nyang bener aja.


Justru respon pemerintah, media mainstream  dan The Nyinyirers lah yang dengan semena-mena membawa aksi ini jadi seakan peristiwa politik praktis. politisi mana di dunia ini yang mampu mendatangkan jutaan, sekali lagi jutaan manusia dari penjuru Nusantara dengan biaya dan fasilitas sendiri-sendiri?


Masalahnya mereka terlalu focus sama Habib Rizieq. Beliau hanya salah satu muslim yang turut berjuang. Bagi saya pribadi, gak ada satu pun manusia yang sanggup mengumpulkan jutaan manusia sebanyak itu dengan kesadaran penuh dan ongkos masing-masing, termasuk Habib Rizieq atau Ust. Bachtiar Natsir. Lahh, terus siapa? Ya pikir aja ndiri...


Ya, memang saya berkali-kali bilang bahwa hidup ini pilihan bebas. Tapi apa ya perlu bikin aksi-aksi tandingan dengan sebutan Bhineka, maksain banget biar yang 212 atau 411 terkesan anti bhineka, intoleran dsb. Saya kira itu justru politis. Ah, sudahlah..


Saya? Hmmm.. sejujurnya saya masih saja tertunduk, belum mampu mengangkat kepala akibat pukulan telak anak-anak muda Ciamis itu. Sangat telak, mereka ajarin saya tentang kata "BERKARAKTER" dalam arti yang sesungguhnya.


Silent Hero. Ya, itu sebutan saya buat mereka. Selama menyangkut Allah dan RasulNya yang mereka cintai, mereka bergerak maju tanpa ribet cari alasan. Gak banyak mulut, tanpa keluhan, meski jelas-jelas terbentang 300 Kilo Meter titian terik dan hujan menuju Ibukota. 


Sebagian bilang mereka konyol. Ya gapapa, lagi-lagi hidup ini pilihan bebas. Tapi bagi saya lebih konyol lagi orang yang berpikir bahwa kualitas semua manusia sama kayak dirinya. Mereka yakin bener berpikir bahwa kualitas santri-santri ini kalo gak ada bus gak jadi berangkat. Emang kalian..!?


Mau ketawa? Yuk ketawa bareng, tapi pelan-pelan aja biar ga ada yang tersinggung. Yang model begitu emang layak diketawain. Toh sekali lagi, hidup ini pilihan bebas, bukan? 


Terimakasih Dik, Nak, Mbah, Bu, para Mujahid dari Ciamis... Kalian luar biasa. Seketika mengingatkan saya militansi Jenderal Soedirman dan gerilyawannya, Pangeran Diponegoro bersama santri-santrinya, Bung Tomo dengan arek-arek Suroboyonya, dan masih banyak lagi para pahlawan Nusantara (Allahummaghfir lahum) yang memungkinkan kita bisa merasakan punya harga diri, paling tidak sampai hari ini.


Tolong doakan saya. Seperti kalian, semoga Yang Esa membimbing saya, bagaimana seharusnya berdiri mengikuti hati nurani seperti cara seorang hamba laki-laki berdiri...


Biarkan mereka mencibir. Bukankah ketika melawan, Pangeran Diponegoro dan para santri dulu juga dicibir oleh kaum pribumi yang sudah terlanjur nyaman memakan gaji gulden, sementara anak-anak mereka menjadi ningrat baru yang bersekolah di sekolah Belanda?


Biarlah mereka menganggap bodoh.

Maka hari ini saya rela memilih menjadi 'bodoh' daripada selamanya saya tidak sadar bahwa saya ini 'bodoh'. 


Sebab definisi dari jaahil murokkab atau bodoh kuadrat adalah; "Laa yadri annahu laa yadri". Jadi yang lebih bodoh dari si 'bodoh' adalah mereka yang tidak tahu bahwa dirinya bodoh.


Wallaahu a'lam...

Ampuni saya Yaa Rabb...

Read more ...
07 Oktober 2016

Buku Trimurti, Upaya Visualisasi Titik Berangkat Perjalanan Gontor




Sejak awal menerima buku ini, saya sudah gak sabar ingin segera membaca. Bukan saya sebegitunya haus bacaan, tapi memang sudah lama saya mereka-reka visual cerita sejarah yang tentu sudah sering saya dengar tentang tiga tokoh pendiri Pondok Modern Gontor, para Kyai dan guru-guru saya, Trimurti, Allah Yarhamuhum.

Mereka-reka visual? Ya. Mungkin karena hobi dan profesi saya yang biasa bertugas memvisualkan konsep, dan karena itu juga saya menggunakan istilah “Visualisasi” dalam sub judul catatan ini.

Tapi sebenarnya bukan semata itu. Menurut saya manusia selain makhluk sosial, dia juga makhluk visual. Allah men-disain otak kita bekerja secara visual. Psikolog Tony Buzan berpendapat bahwa otak manusia bekerja dengan gambar dan asosiasi. Sebab itu dia menyajikan metode Mind Mapping dalam upaya visualisasi ide. Buktinya, ketika kita mendengar atau membaca sebuah cerita, otak kita otomatis memetakan suasana set lokasi, karakter dan bodytype tokoh dalam cerita dan seterusnya. Bukan deretan teks atau mimik si pencerita yang kita bayangkan.

Dan jangan lupa bahwa secara sejarah dan tradisi, masyarakat kita sejak dulu adalah masyarakat penonton, bukan masyarakat pembaca. Budaya Menonton sudah menjadi budaya bangsa kita sejak ratusan tahun silam. Ketoprak, wayang kulit, ludruk dan banyak lagi, terbukti mampu menjadi media komunikasi penyampaian pesan cukup efektif kepada masyarakat luas, baik oleh kalangan penguasa maupun tokoh-tokoh religi seperti Sunan Kalijaga dengan wayang kulitnya dsb.
Barangkali begitulah jawaban saya ketika pernah suatu hari ditanya oleh para sahabat dan asatidz tentang kemungkinan mem-film-kan buku ini. Tentu saja masih banyak fariabel lain yang harus dipenuhi untuk mewujudkan sebuah film dari catatan sejarah yang luar biasa ini.

Seperti biasa membaca buku sejarah, tentu saya sudah menyiapkan diri sedang berhadapan dengan sebuah karya sastra sejarah ataukah sebuah catatan peristiwa biasa dengan metode jurnalisme biasa. Melahap buku Trimurti ini, jujur ada sedikit kebimbangan dalam saya bersikap.

Tentu saja kita tidak bisa semena-mena menilai buku Trimurti ini sebagai karya sastra biasa dengan berbagai subyektifitas penulisnya. Sebagai sebuah buku, Trimurti ini cukup memuat alur informasi dan ideologi para pendiri Gontor secara akurat sesuai nara sumber yang tersisa. Sebagai sebuah catatan sejarah, memang ada detil yang hilang secara imajinasi visual saya sebagai pembaca. Saya maklum, betapa complicated-nya melakukan riset dengan merunut sejarah panjang perjuangan beliau-beliau dalam waktu dan media terbatas.

Saya cukup memahami kesulitan yang dihadapi tim Etifaq, saudara Muhammad Sanusi dan kawan-kawan, penulis buku Trimurti ini. Di mana Trimurti adalah sebuah catatan sejarah perjuangan para Tokoh dengan 3 katakter dan peran berbeda, di waktu dan tempat yang sporadis tapi untuk satu tujuan yaitu pendidikan ummat. Bukan perkara mudah memilih menulis fakta sejarah atau sekedar menyajikan cuplikan informasi semacam jurnalistik tentang kilasan suatu peristiwa. Apalagi menyangkut banyak hal yang harus diakomodir.

Saya tertarik ketika catatan buku ini sempat berangkat dari Pesantren Tegalsari yang fenomenal meski tidak banyak. Penulis juga memberi porsi pada sisi emosional untuk mencoba menyentuh sisi sensitif pembaca dengan memberi pondasi kuat berupa touch of maternity dari Ibunda Nyai Santoso. Ya, ibu adalah bahasa hati yang universal. Saya kira penulis cukup cerdas membangun keseluruhan tulisan dengan pondasi peran penting seorang wanita yang luar biasa, Nyai Santoso, ibunda Trimurti.

‘Ala kulli hal, sebagai orang yang sudah sering mendengar ceritanya, saya masih cukup punya sense of curiousity ketika membaca buku ini. Sebagai catatan singkat sejarah sebuah lembaga pendidikan yang mendunia seperti Pondok Modern Gontor, publik berhak tau, bukan hanya alumni atau keluarga saja. Sudah saatnya perjuangan KH. Ahmad Sahal, KH. Zainuddin Fanani dan KH. Imam Zarkasyi menjadi salah satu referensi penting perjuangan Bangsa dan Islam pada khususnya sebagai pelajaran berharga bagi siapa saja.


Catatan Sigit Ariansyah

Disampaikan dalam acara Bedah Buku Trimurti di PPM Assalam Bangsal Mojokerto, Jawa Timur.



Read more ...
04 Januari 2015

Ultah Dua Manusia Terkasih


Suatu hari bertahun lalu ketika aku masih duduk di bangku setara SMP. Entah kenapa aku yang biasanya lebih suka diam-diam menggambar atau lebih tepatnya corat-coret sendiri atau melamun saat guru mengajar di kelas, hari itu aku seperti tak sengaja terhipnotis mencermati seorang pengajar Sejarah Islam yang sedang membacakan bagaimana bentuk fisik dan sifat-sifat Nabi Muhammad SAW dari sebuah buku tebal kumpulan hadits. "Betapa sempurna dan berkarakternya manusia pilihan ini," begitu kira-kira hatiku bergumam saat itu.

Betapa perawakan Nabi SAW yang tidak terlalu tinggi tapi tidak pendek, rambutnya tidak keriting tak pula lurus, raut beliau yang tak terlalu bulat tidak juga persegi, kulit cerah, putih kemerahan, dahi lebar rambut sebahu, bola mata hitam dengan bulu mata melentik indah, selalu tampil bersih dan wangi, langkahnya lebar dan tegap saat berjalan, menebar senyum pada siapapun, menyayangi anak-anak dan sangat romantis terhadap para istri, tak pernah marah atau membalas jika dirinya diperlakukan buruk, beliau baru marah ketika Allah dan ajarannya dinista, meski beliau seorang panglima perang dan khalifah yang sangat sukses. Dan banyak lagi sifat sikap beliau yang memukau dan menjalari ruang imajinasiku hari itu.

Sampai ketika sang pengajar menerangkan hari kelahiran beliau yaitu hari Senin, tanggal 12 Rabi'ul Awwal tahun Gajah, imajinasiku pun makin liar mempersoalkan berbagai hal. Disebut tahun gajah karena berbarengan dengan peristiwa besar gagalnya raja Abrahah dari Ethiopia dan pasukan gajahnya yang hendak menyerbu Mekah untuk menghancurkan ka'bah. Mereka lari terbirit-birit oleh kawanan burung Ababil pelempar kerikil dari Sijjiil.

Apa yang tersisa dari imajinasi liarku tentang hari kelahiran Nabi SAW saat itu, muncul pertanyaan sepele dan kekanakan, "Kira-kira seperti apa ya, orang yang lahir dengan tanggal dan bulan yang sama dengan Nabi Muhammad SAW ini?".

Sebuah pertanyaan imajiner tak penting dari seorang anak kecil yang sudah pasti segera akan menguap dan terlupakan tak lama setelahnya. Aku pun melupakan pertanyaan itu, kembali tenggelam dalam berbagai gerak dan kegalauan lain.

Percaya atau tidak, bertahun tahun setelah itu, ketika aku sudah duduk di bangku kuliah (atau mungkin juga sudah mulai males-malesan kuliah? :D), pertanyaan liar itu terjawab dengan sendirinya bahkan tanpa aku pertanyakan kembali. Pada suatu malam perayaan Maulid Nabi SAW di kampungku entah tahun berapa aku sudah lupa, tiba-tiba saja nenekku berkata datar . "Ibumu lahir di tanggal yang sama dengan Rasulullah SAW. Persis 12 Rabu'ul Awwal, juga di hari Senin..."

"Nahh...?! Ibundaku tercinta? Lahir di tanggal 12 Rabi'ul Awwal? Tepat di hari Senin pula...?" Aku yang tadinya dengerin omongan nenek sambil lalu saja seperti biasanya, seketika menghentikan mulutku memonyong mengunyah entah cemilan apa saat itu. Bengong, melongo beberapa saat. Aku pun memastikan lagi pada ibuku yang juga ada di situ. Ibuku juga mengiyakan dengan ekspresi datar saja. Sepertinya akulah orang dengan perasaan dan ekspresi paling heboh saat itu. Mereka tidak tahu. Memang tidak ada yang tahu kebetulan luarbiasa ini.

Dan hari ini, 12 Rabi'ul Awwal 1436 bertepatan dengan 3 Januari 2015 kalender matahari, tiba-tiba aku senyum-senyum sendiri mengingat peristiwa pemikiran liar puluhan tahun lalu itu, yang mungkin hanya aku sendiri yang tau sampe hari ini.

Selamat ulang tahun Sang teladan, Rasul Allah shallaahu 'alaihi wa sallam... Selamat ulang tahun Ibundaku tercinta... Dua manusia pertama yang mengenalkan SATU ideologi di dadaku. Semoga berkah dan kasih Allah selalu memuliakan Anda berdua.... Aamiiin...

Cileungsi, 12 Rabi'ulawwal 1436 | 3 Januari 2014
Read more ...
20 Juli 2014

Empati untuk Palestina. Salah?


Soal Palestina itu, 

Mmm... Menurutku gini ya bros...


Ada dari kita yang tersentuh atas nama humanisme, tepat.. memang wanita dan anak2 dibantai dg kejam di sana.

Ada yang berpendapat itu hanya soal sengketa tanah, ya gak salah, toh dunia sepakat kolonialisme harus dihapuskan dari muka bumi..?

Ada sebagian umat Islam kebetulan merasa solider, ya monggo aja.. faktanya penduduk yg jadi korban di sana 80% Muslim...


Bagi yang kebetulan diberi harta lebih, silahkan sumbang dg harta...

Bagi yg dianugerahi otak brilliant, monggo sumbangkan solusi pemikiran...

Bagi yang punya tenaga dan waktu luang mau jadi relawan ke sana, ya boleh2 aja...

Bagi yang baru bisa sekedar mendoakan, itu pun mulia sekali...

Bahkan yg hanya mampu sharing berita di socmedpun pasti ada manfaatnya. Itu sebuah sikap. 

So speak out...!


Ya... memang gak semua Yahudi itu Zionis. Gak semua mereka ikut tertawa dg agresi berumur puluhan tahun itu.

Ya... mungkin gak semua strategi Hamas bisa dibenarkan... 

Tapi lihat, gak ada kata politik dalam daftar empati di atas... 


Aku yakin, sebagian mereka yang getol bantu di Palestina juga sudah pernah jadi relawan di pedalaman Indonesia Timur, bencana Aceh, Sinabung, Merapi dsb.


Terus alasan apalagi yang harus dicari2 untuk diributin? 


Jadi, di mana posisi Anda?


Jika mampu, silahkan saja berbuat sesuai kapasitas dan alasan anda, hormati kapasitas dan motivasi orang lain yang beda. Bukannya begitu cara toleransi bekerja..? 


O ya, aku setuju untuk kita tidak upload gambar2 yang cenderung sadis di wall public...



NOTE: 

Ini bukan surat buka-bukaan.. Ini aku ngomong sendiri... :D


Piss... :)

Read more ...
28 Juni 2014

Memikirkan Kebaikan di Pintu Ramadhan




Dalam hidup ini, ada hal yang harus dipikir dalam-dalam, ada juga yang tak perlu.

Bagi saya, ibadah-ibadah yang jelas telah diwajibkan Allah adalah salah satu yang tak perlu saya pikir dua-tiga kali. Berusaha jalani saja semampu saya, lalu nikmati.

Seperti kata Newton, "Jangan terlalu banyak berfikir, jangan banyak berkedip jika tak mau gagal..!".
Ya, gagal karena kehilangan anugrah bekal refleks dan insting manusiawi kita akibat terlalu memaksakan logika. Logika yang sejak kemarin kita sangka tak berbatas.

Bagian tersulit dari setiap ibadah dan perbuatan baik adalah 'memulai' dan 'ikhlas' (menghindar dari rasa bangga berlebihan). Jika harus berpikir, mungkin memikirkan strategi dua tantangan itu akan lebih diperlukan.

Percayalah, saya tidak sedang menggurui siapapun, tapi saya hanya sekedar menuliskan dialektika antara hati dan otak saya sendiri, untuk saya sendiri...

Selamat beribadah Ramadhan bagi sahabat2 yang menjalankan... Maafkan khilaf dan salah saya yang bejibun itu. Semoga Allah ridho dengan limpahan ampunan dan berkahNya pada kita semua... 

Aamiiin....
Read more ...
02 Oktober 2013

Cara Compress File Video Berkualitas HD untuk Upload ke Youtube

Anda mungkin pernah menonton video di Youtube tapi cukup terganggu dengan kualitas gambar yang terlalu rendah. Meskipun content video itu sebenarnya bagus, tapi karena kualitas gambarnya sangat rendah jadi males nerusin. Patut disayangkan, apalagi jika anda seorang videografer professional yang ingin menunjukkan karya terbaik anda seperti video wedding, misalnya. Pun sekarang Youtube sudah support HD format.

Memang ada beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas compressing video untuk bisa diupload ke Youtube. Selain batas ukuran maksimum yang sudah ditentukan oleh Youtube, bisa juga jenis encoder, aspect rasio, frame rate dan seterusnya yang mempengaruhi.


Nah, untuk itu kali ini saya mau coba sedikit berbagi bagaimana men-setting format render atau eksport video untuk diuload ke youtube dengan kualitas HD yang bagus (paling tidak menurut saya :D), tidak terlalu rendah tapi juga tidak terlalu besar untuk kebutuhan upload.


Yuk, langsung aja, di bawah ini saya contohkan active-timeline sebuah iklan commercial yang pernah saya kerjakan. Saya akan coba urutkan satu persatu setting yang saya pakai dengan menggunakan software editing Final Cut Pro 7.




1. Tekan tombol ‘FILE’ > ‘EXPORT’ > ‘USING QUICKTIME CONVERSION’ seperti       gambar di bawah-kiri ini.



2. Saat muncul dialog box ‘SAVE’ seperti gambar di kanan atas, tekan tombol ‘OPTION’ yang saya beri tanda garis bawah warna orange. Maka akan muncul dialog box ‘Movie Settings’ seperti di bawah ini, lalu tekan tombol ‘SETTING’.



3. Dengan menekan tombol ‘SETTING’ anda akan masuk ke ‘Standard Video Compression Settings seperti di bawah ini.



4. Perhatikan bagian box yang saya beri tanda garis bawah warna orange. Pada kolom pilihan ‘Compression Type’ saya gunakan H.264, ‘Key Frames’ saya pilih ‘Every’ dengan 30 frames atau bisa juga anda gunakan 24 sesuai default. Untuk ‘Data Rate’ saya pakai ‘Restrict to’ bisa diisi 1000 hingga 5000 kbits/sec. Untuk ‘Encoding’nya saya gunakan pilihan ‘Best Quality’ dengan double pass lalu klik ‘OK’ maka anda kembali ke dialog box 'Movie Setting' (gambar bawah-kiri).



5. Sekarang tekan tombol ‘SIZE’ untuk memasuki ‘Export Size Settings’ (atas kanan) dan di kolom ‘Dimensions’ kali ini cukup saya pilih HD 1280 X 720 tentunya dengan aspect ratio 16:9. Jika sudah, anda bisa centang kolom ‘ Preserve Aspect Ratio Using’ ‘Letterbox’ seperti yang tampak pada gambar di bawah-kiri, lalu klik ‘OK’.



6. Kini anda sudah kembali ke dialog box ‘SAVE’ (atas-kanan), silahkan ganti nama file sesuai keinginan anda lalu alamatkan file video yang akan anda export ke hardisk yang dikehendaki seperti gambar kanan atas lalu klik ‘SAVE’. Jika rendering selesai video anda pun siap diupload ke Youtube dengan selamat, insyaAllah... :D

Compressing file video untuk keperluan upload internet memang tidak mungkin bisa sebagus originalnya  karena akan terlalu besar dan berat. Metode yang biasa saya gunakan di atas hanya salah satu dari banyak cara lainnya. Sejauh yang saya tau, hasilnya lumayanlah untuk present via internet, hehe... Jika mau tau hasilnya, monggo bisa anda tonton DI SINI.


Silahkan dicoba, semoga bermanfaat.
Read more ...
30 September 2013

Sepak Bola Indonesia dan Analisa Kebetulan

Setelah kita dibuat kagum dan bangga oleh adik-adik squad Timnas Garuda U-19 yang berhasil menggondol juara AFF U-19 2013, tadi malam kita pun cukup dipuaskan oleh penampilan Timnas U-23 dalam laga final ISG-III, meski hanya meraih posisi runner up di ajang ISG setelah tumbang dari tim bagus Maroko. Gak apa-apa lah... Yang penting Seagames nanti harus lebih wow!

Tulisan saya di sini tidak hendak menambah lagi bermacam analisa teknis atau kritikan dan pujian yang memang sudah kebanyakan itu, tapi saya cuma menyampaikan suatu 'ganjalan' yang boleh dibilang lucu, aneh dan cenderung metafisik (wuidiiihh... dukun kalee...).

Emmm... Jadi gini... Setelah saya coba track back beberapa pertandingan Timnas belakangan ini, baik senior maupun junior, ada semacam fenomena (atau katakanlah kebetulan) yang menurut saya menarik, lucu sekaligus menjengkelkan, yaitu tiap kali Timnas bertanding dan di skybox atau tribun VVIP ada tokoh-tokoh politik yang unjuk muka, timnas selalu saja kedodoran. Hehe... Kalo gak percaya juga boleh loh...

Coba kita intip lagi ya, saat Seagames 2011 lalu, perjalanan Timnas U-23 begitu mulus sampai lolos semi final. Begitu Final, penonton berjubel memenuhi GBK dengan harapan besar. Seluruh Indonesia pun berharap melalui siaran langsung televisi. Maka moment tersebut buru-buru dimanfaatkan oleh para politisi dan pejabat untuk berunjuk muka, syukur-syukur kalau dianggap berjasa paling tidak bersemangat membela pasukan Garuda. Hasilnya? Anti klimaks. Di final yang riuh itu timnas Indonesia justru dibekuk Malaysia lewat drama adu penalti.

Terus apa lagi? Nah, masih hangat di ingatan kita, belum lama ini timnas senior beberapa kali menyambut tantangan pemain-pemain kelas dunia tak kurang dari timnas Belanda dan club-club raksasa liga inggris sono. Okelah, memang sulit untuk bisa menang dari mereka. Tapi coba lihat hasil laga mereka berikut.

Saat Melawan timnas Belanda, timnas Indonesia kalah telak 0-3. Waktu itu tribun VVIP yang selalu disorot kamera dipenuhi para politisi dan pejabat seperti sekjen partai demokrat, Ibas, putra kedua presiden SBY, ada Anindya Bakrie dan lain-lain dan tentu saja Menpora yang ikut turun menyalami para bintang lapangan sambil melambai-lambaikan tangan.

Di laga berikutnya lawan Arsenal, rupanya kali ini partai lain yang tak mau kalah, merasa perlu memanfaatkan momen besar itu sebagai ajang campaign ambisi mereka. Tak Kurang dari sepasang capres dan wakilnya pun dengan maksimal unjuk muka, sampai-sampai ikutan turun ke lapangan menyalami para pemain satu persatu meski dari tribun terdengar teriakan "huuuu...!". Sumpah, ini bikin pertandingan inti jadi kelamaaaan. Hasilnya? Kita dibantai 0-7 sodara-sodara...

Entah kenapa di laga setelah itu melawan Liverpool, tribun VVIP jadi sepi. Tak ada orang partai, tak tampak politisi yang melambai-lambai, bahkan Menpora pun tak hadir. Dan hasilnya, meski kalah, kita hanya kalah 0-2 itupun dengan alot, timnas Indonesia bermain bagus saat itu. Tapi kekalahan itu wajarlah dan tidak memalukan untuk kalah tipis dari club yang mempunyai track histori panjang seperti Liverpool.

Nah, pada laga melawan Chelsea, eh, kenapa pula para politisi tersebut kembali berdatangan dan juga salam-salaman lagi. Hadeeh... Saat itu juga saya langsung pessimis bahkan sebelum kick off dimulai. Benar saja, timnas Garuda dibantai Chelsea 1-8. Kalah ya kalah, tapi mbok ya yang kelihatan ada perlawanan gitu lho (ngomong sama remote TV). Hmmm...

Sudah selesai? Sayangnya beluuuum. Laga yang masih hangat, perjalanan timnas U-23 di Islamic Solidrity Games boleh dibilang cukup mulus. Saya gak pernah lihat politisi bahkan Menpora hadir selama babak penyisihan group maupun semifinal. Hasilnya kita lolos ke final. Nah, saat final inilah tampak Menpora dan Gubernur Sumatra Selatan berikut jajarannya di sana dan lagi-lagi timnas kita anti klimaks, kalah di final bahkan dengan tim yang pernah kita kalahkan di babak penyisihan group. Hmmm...

Trus gimana dengan laga AFF U-19 di Jawa Timur kemaren? Syukurlah, dari babak penyisihan, semi final sampai final tidak terlihat ada aktifitas politisi di sana. Paling tidak gak massive di kamera. Menpora pun di final tidak bisa hadir. Hasilnya kita tahu. Timnas Garuda Jaya U-19 pun menjadi juara dengan memboyong piala yang selama sekian tahun hanya mampu kita impikan. Alhamdulillah...

Hehe... Jangan terlalu dipikirkan analisa 'kebetulan' yang aneh ini sodara-sodara. Cukup kita rasakan betapa sepak bola kita yang memiliki potensi luar biasa itu, saat ini hanya berpredikat bukan siapa-siapa. Sudahlah, biarkan persepakbolaan kita diurus ahlinya. Biarkan mereka yang bekerja keras itu sajalah yang mendapat tepuk tangan dari Dua Ratus Juta rakyat Indonesia. Anda para politisi, carilah tepuk tangan di lain tempat jika masih tersisa. Semoga inilah saatnya kebangkitan sepak bola milik rakyat Indonesia benar-benar terwujud.

Amiiin...
Read more ...
28 April 2013

Definisi Cerdas

Seorang teman, wanita cantik, jomblo, datang bersama kenalan barunya. Lalu dengan menggebu-gebu ia mengenalkan teman lelakinya itu kepada saya. "Kenalin mas ini temenku, sebut saja 'Bunga'..." eh, jangan ding, dia cowok. "Mmm... Sebut saja 'Batang'. Dia nih orangnya cerdas lho mas..."

"Hei, hallo... Wow.. Beruntung sekali kamu," ucap saya ikut bangga sekaligus penasaran.

Kebetulan, si cowok lalu permisi ke toilet. Maka saya manfaatkan kesempatan itu untuk memenuhi rasa penasaran dengan mengorek teman saya. "Heh, tadi kamu bilang dia cerdas kan..? Wahh.. pasti dia seorang penemu rumus atau pembuat pesawat gitu ya...?" tebak saya tak kalah menggebu.

Temen saya cuma meringis. "Halah, bukan gitu mas.. Dia itu PNS di Departemen Per****(sensor). Aku bilang cerdas, karena meski tiap hari kerja di kantor pemerintahan, tapi dia masih bisa menambah income di luar gaji lumayan banyak lho... Punya mobil, baru beli rumah juga... "

"Oh..." agak kendor rasa penasaran saya. "Hebat! Emangnya dia punya bisnis di luar gitu?"

"Yaah.. Biasa makelaran mobil dan tanah mas... Itu belum termasuk kalo ada pengusaha yang pengen dapet tender dari kantornya. Waah bisa lebih gede lagi dapetnya.. Pinter kan mas...?"

Serta-merta saya nyeruput teh hangat, menyalakan rokok lalu diam terpaku menatap langit-langit... (saya akui yang ini lebay... :D).

Baiklah, cukup cerita singkat di atas sebagai intro. Lupakan berapa lama si kenalan baru cerdas itu berada di toilet. Saya tidak sedang membahas KKN atau birokrasi pemerintahan kita yang memang sudah uassu sejak dulu. Saya hanya kepikiran tentang definisi 'cerdas' menurut si cantik jomblo itu yang agak mengganggu tidur saya.

Suka atau tidak, definisi itulah yang paling banyak dianut masyarakat kita. Kita banyak mendengar orang tua menyebut anaknya pintar dan berbakti ketika ia mampu mengembalikan utang yang dulu dipakai nyogok saat mendaftar sebagai pegawai kecamatan, misalnya. Malahan banyak juga orang tua yang memuji kepintaran anaknya belanja handphone atau sepatu palsu lalu dijual lagi dengan harga 10 kali lipat. Weleh.. Itu mah bukan usaha pook... Itu penipuan kalee... :D

Ya, jumlah income atau keuntungan serta kuantitas kepemilikan masih menjadi barometer 'kepintaran' dalam masyarakat kita. Kalau diteorikan lalu dibukukan, mungkin paling pas masyarakat kita ini bisa disebut: Materealistic-nepotistic-opportunistic-religious society. (Halahh opo maneeh iki... :D)

Nah, karena soal definisi 'cerdas' ini lumayan mengganggu tidur saya, maka mulailah saya melakukan riset (ciee..). Tapi apa yang terjadi saudara-saudara? Baru membaca satu versi definisi 'cerdas' yang tidak lebih dari empat baris saja saya makin mumet. Coba saja anda search sendiri di google, akan ada ribuan definisi kata 'cerdas' yang berbeda-beda dan cukup teoritis.

Kita cuplik aja deh, salah satunya menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi kecerdasan adalah: [a] (1) sempurna perkembangan akal budinya (untuk berpikir, mengerti, dsb); tajam pikiran: sekolah bertujuan mendidik anak agar menjadi orang yg -- lagi baik budi; (2) sempurna pertumbuhan tubuhnya (sehat, kuat): biarpun kecil badannya, tidak kurang --

Hmmm... sangat ruwet bukan? Definisi di atas cukup membuat saya berasa makin tidak cerdas. Hehe... Mungkin karena itulah dulu saya agak kurang suka duduk belajar di dalam kelas. Teori-teori itu tidak mampu secara otomatis membuat saya merasakan lalu mengerti, tapi ia memaksa anak kecil seperti saya menghapalnya lalu membanggakan diri di depan guru.

Maksud saya, bahwa bisa menjawab pertanyaan di manakah Ibukota Ukraina? Atau siapakah presiden Czech Republic? Dan sejenisnya, belum berarti anda seorang yang cerdas. Membaca ratusan buku, itu baru membuat anda tahu, belum tentu cerdas apalagi genius.

Sebaliknya, pernahkan anda membayangkan Albert Einstein menganyam janur untuk membuat ketupat lebaran? Nah, kalaupun Eintein hanya akan jadi bahan tertawaan ibu-ibu yang jago membuat ketupat, bukan berarti Einstein tidak cerdas tho..?

Sementara teori lainnya lebih fokus pada logika. Seseorang (saya lupa) mengungkapkan, selama anda mampu memahami suatu objek pemikiran dan itu sinkron dengan logika umum, berarti anda cerdas. Karena itu kemudian ada pengelompokan level IQ (Intelligence Quotient). Sebagaimana kita tahu, metode tes yang pertama kali digagas pada 1904 oleh psikolog Prancis Alfred Binet ini akhirnya mendunia dan dipakai menentukan level IQ seseorang hingga sekarang. Tapi itu pun masih menyisakan kontroversi tentang keakuratan metode tersebut.

Tunggu dulu. Saya jadi bertanya-tanya, jika sedemikian hebatnya logika kita hingga menjadi patokan sebuah kebenaran dan fakta, mengapa pada abad pertengahan logika semua orang menganggap bumi ini datar dan menjadi pusat peredaran matahari? Bahkan pada tahun Seribu Limaratusan mereka (gereja) harus membunuh Nicolaus Copernicus karena teorinya yang mengatakan sebaliknya, bahwa mataharilah yang menjadi pusat tata surya. Bukankah itu kesalahan massal logika manusia?

Jika begitu, apa yang tampak logis belum tentu sebuah kebenaran. Jika kita mengatakan sesuatu itu tidak logis, itu adalah bahasa kita. Saya menyebutnya logika bumi. Bahasa yang benar adalah logika kita yang belum menjangakaunya. Hanya Logika Langit yang bisa menjangkaunya. Bukankah masih ada partikel yang lebih kecil daripada atom bahkan lebih kecil lagi, yang belum bisa dijangkau para ilmuwan?

Cukuplah kita mengetahui bahwa IQ diatas 140 disebut genius, dibawah 30 disebut idiot, sebagai alat yang bagus untuk bahan olok-olokan. Di sinilah pangkal mulanya saya kepikiran untuk menulis ini.

Beberapa waktu lalu saya melihat sekumpulan anak kecil yang sedang menertawakan dan menggoda orang dewasa yang kebetulan (maaf) gagu, sulit berbicara. Dari semua anak itu, saya perhatikan hanya ada dua anak yang tidak tertawa, bahkan menarik diri menghindar dari teman-temannya. Spontan saya berpikir, mungkin inilah jawabannya. Mungkin dua anak itulah yang memiliki kecerdasan lebih dibanding anak lainnya.

Ya, karena saya meyakini kecerdasan itu erat hubungannya dengan kalbu, mata hati. Hati bukan dalam bahasa kedokteran yang berarti liver, tapi Heart Brain atau Cardiac Ganglia menurut bahasa Neuro Science. Sebenarnya itu adalah jawaban dari pertanyaan panjang saya tentang sebuah ayat Al-Qur'an yang tidak sengaja saya baca beberapa tahun lalu, tapi saya kurang bisa memahami.

Ayat tersebut berbunyi: ".. Mereka mempunyai hati (kalbu) tapi tidak dipergunakan untuk berfikir..." (Al-A'raf:179)

"Lohh..!? Hati kok dipake buat mikir?" Tanya saya waktu itu. Setelah cukup lama saya penasaran, subhanallah lagi-lagi secara tidak sengaja dipertemukan dengan sebuah artikel pendek dari DR. Arifin Mufti. Dari situ saya dapat jawaban paling memuaskan dari sisi Neuro Science. Ternyata jantung kita memiliki Otak, sebagian ilmuwan menyebutnya Heart Brain atau Cardiac Ganglia.

DR. Arifin Mufti menulis, Heart Brain ini bertugas mengelola, mengatur, dan mengendalikan semua informasi dalam bentuk rasa yang tidak terstruktur (emosi, rasa, intuisi, ilham, (keyakinan) iman dan rasa takut kepada Tuhan atau takwa). Dalam bentuk fisik - minimal 40.000 sel syaraf (neuron) diatas jantung (dinding), seperti cendawan berserabut (dari gambar dasar biru terlihat seperti noktah putih), banyak "bulu halus“ – berfungsi sebagai radar atau transmitter yang dapat menerima dan memancarkan sinyal radio dibawah frekensi 40 Hzt.

Secara fungsi, Heart Brain ini juga tandem dari otak depan dalam mengolah berbagai informasi yang mempengaruhi tindakan manusia. Dan itu sudah eksplisit tertulis dalam Kitab Mulia sejak 1400 tahun yang lalu. InsyaAllah nanti akan saya post secara khusus pembahasan ini di blog ini.

Maka bagi saya jelas, kecerdasan berarti sinkron antara nurani dan logika. So, mulai sekarang hati-hati kalo mau ngatain orang dengan kalimat "Pakai Otak dong....!" Hehe...

Wallaahu a'lamu bisshawab, hanya Allah yang Maha Tahu segala kebenarannya...
Read more ...

ad2

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

AddThis

follow